Mengangkat tema PRINGHARMONIC, Ponorogo Creative Festival (PCF) 2025 menjadi suguhan istimewa yang menjawab kerinduan masyarakat akan pertunjukan seni.
Digelar selama tiga hari, 22–24 Mei 2025, festival ini menjadi ajang unjuk kreativitas para seniman Ponorogo dalam berbagai genre seni ekonomi kreatif.
Mulai dari tari, film, musik, hingga kriya, PCF membuktikan bahwa Kota Reog tak hanya kaya akan warisan budaya, tetapi juga memiliki semangat besar dalam mengembangkan potensi ekonomi kreatif.
Pada malam puncak, panggung festival diisi pertunjukan tari dari berbagai sanggar seni lokal. Beberapa di antaranya adalah Tari Geol Denok, Ngrancut, Tekad, Asmara Putri Kirana, Okol, Kridha Satriya Wengker, Rupa Kembyang, Prajurit Ksatria, Sang Pembarong, hingga Tali Jiwo Reborn.
Sebagai penutup, pengunjung disuguhi Fashion Show Recycle, peragaan busana hasil karya dari barang-barang bekas yang disulap menjadi busana unik nan artistik.
Parade ini menjadi simbol kepedulian terhadap lingkungan, yang dikemas dalam narasi kreatif tentang keberlanjutan.
Kang Bupati Sugiri Sancoko menyampaikan bahwa yang membedakan PCF 2025 dari tahun-tahun sebelumnya adalah hadirnya napas kesadaran lingkungan dalam karya yang disajikan.

“Kalau kata-kata saya tidak cukup, dan gerakan saja belum menyentuh, maka melalui seni, melalui drama dan pertunjukan, kita bisa menyentuh hati masyarakat,” ujarnya.
Melalui PCF, Kang Bupati mengaku semakin yakin akan kekuatan dan inovasi seniman Ponorogo dalam membangun industri kreatif daerah.
Juga menjadi modal penting Ponorogo yang bakal mengikuti seleksi final menjadi bagian dari jejaring kota kreatif dunia / UNESCO Creative Cities Network (UCCN).
Ia meyakini sektor ini mampu menjadi pendorong ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Ponorogo.
“Pada tahun 2025, Ponorogo dan Malang akan mewakili Indonesia seleksi masuk UCCN, Jaringan Kota Kreatif UNESCO. Dengan itu, kami yakin ekonomi kreatif Ponorogo akan mampu membangun ekonomi kita,” tegasnya.