Tak hanya warga yang tinggal di Ponorogo, Kang Bupati Sugiri Sancoko juga merangkul para perantau atau diaspora yang berkarir di berbagai daerah, untuk membangun Ponorogo.
Pada Rabu (3/4/2025), bertepatan dengan momen Idulfitri, ratusan diaspora Ponorogo yang tergabung dalam Paguyuban Warga Ponorogo (Pawargo) berkumpul di Pendopo Agung Ponorogo.
Acara yang bertajuk “Ngobrol Santai Ngopi Preenn (Ngolah Pikir Ponorogo Keren)” ini menjadi wadah silaturahmi sekaligus ajang diskusi untuk mendorong pembangunan dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Diskusi tersebut dipandu langsung oleh Susiwijono Moegiarso, Ketua Umum Pawargo sekaligus Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, dengan menghadirkan berbagai pembicara dari beragam latar belakang. Hadir dalam kesempatan itu Kang Bupati Sugiri Sancoko, tokoh diaspora, pengusaha, akademisi, seniman, serta perwakilan media.
Dalam paparannya, Kang Bupati Sugiri Sancoko mengatakan berkaca dari posisi Ponorogo yang “terjepit” secara geografis, langkah tidak tepat bila mengarahkan Ponorogo menjadi kawasan industri.

Membaca potensi budaya dan alam yang dimiliki, menempatkan sektor pariwisata sebagai arah dan tumpuan memajukan Kota Reog menjadi pilihan ideal.
“Saya tidak menempatkan Ponorogo sebagai kota industri itu bukan keputusan asal, tetapi berdasarkan kajian yang matang. Ponorogo punya Reog, etos kerja tinggi, dan pesantren luar biasa. Saya ingin wisata benar-benar menjadi episentrum pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Maka pembangunan objek dan ekosistem pariwisata saat ini sedang menjadi fokus Pemkab Ponorogo.
Selain itu, setelah berhasil mengantarkan reog masuk daftar Warisan Budaya Tak Benda UNESCO tahun lalu, kini pemerintah tengah memperjuangkan agar Ponorogo masuk jaringan kota kreatif UNESCO / UNESCO Creative Cities Network (UCCN).
“Tahun ini saya sedang bertarung untuk mendapatkan UCCN dari UNESCO, semoga berhasil,” tambahnya.
Lebih lanjut, Kang Bupati menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan Ponorogo tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Dibutuhkan dukungan dari seluruh elemen masyarakat, termasuk diaspora.
“Berpikir bersama untuk Ponorogo ini seperti orkestra, di mana setiap elemen berkontribusi dengan kelebihannya masing-masing. Kita belajar dari kelemahan, merangkai kekuatan, dan bersama mencari solusi,” jelasnya.
Kang Bupati berjanji akan memasukkan ide dan gagasan diaspora ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). “Ini bukan sekadar diskusi, tapi harus ada tindak lanjut yang nyata,” tegasnya.
Senada dengan itu, Susiwijono Moegiarso juga menyampaikan komitmen diaspora dalam mendukung pembangunan Ponorogo. “Di tengah tantangan ke depan, saya yakin jika semua elemen, baik yang di Ponorogo maupun diaspora, bersatu, maka Ponorogo akan semakin maju,” ungkapnya.
Acara kemudian ditutup dengan pagelaran Reog Ponorogo yang dibawakan oleh diaspora. Penampilan yang memukau menjadi simbol kuatnya kecintaan para perantau terhadap budaya asli Ponorogo.