Thung… thung… gung…
Suara gong bende memecah kesunyian malam Kabupaten Ponorogo di sepanjang jalur Pringgitan Rumah Dinas Bupati Ponorogo sampai Gedong Setono kompleks makam pendiri kabupaten Ponorogo sebagai pertanda iring-iringan pasukan pembawa 3 Pusaka Agung Kabupaten Ponorogo akan lewat, Kamis (28/7/2022).
Dengan “topo bisu”, obor sebagai penerang, dan berjalan tanpa alas kaki, ratusan Bergadha mengawal Pusaka Tombak Kiai Tunggul Naga, Angkin Cinde Puspita, Songsong Kiai Tunggul Wulung yang di-bedhol dan diserahkan Kang Bupati Sugiri Sancoko kepada pembawa Pusaka untuk dikembalikan ke Kota Lama komplek makam Raden Katong pendiri Ponorogo.
Sampai di Kota Lama, diterangi lilin-lilin di sepanjang jalan menuju Makam, 3 Pusaka Agung Ponorogo tersebut diserahkan kepada kepada juru kunci untuk diinapkan sebelum dikirab dan di-jamas esok harinya.
Inilah salah satu pesona Ponorogo, Kirab Bedhol Pusaka, budaya yang dijaga dan dilestarikan setiap menjelang 1 Suro. Tradisi sakral dengan rangkaian ritualnya yang tidak tergerus oleh zaman.
“Spiritnya adalah nguri-nguri budaya, Pusaka Agung harus diuri-uri dan diagungkan. Bukan berarti mengultuskan, tapi bagaimana mengilhami spirit Pusaka bisa kita jiwai bersama-sama,” ujar Kang Bupati Sugiri Sancoko.
Tidak hanya meneruskan laku ritual, pesan Kang Bupati, spirit pembangunan yang dicita-citakan oleh leluhur harus diteruskan oleh generasi saat ini.
“Generasi muda mampu menerjemahkan nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur kita. Kita mampu meneruskan mimpi-mimpi, mampu mengimplementasikan kepada spirit pembangunan yang dicita-citakan oleh leluhur,” tandasnya.