Rupa-rupanya komoditas pertanian yang dikembangkan di Kabupaten Ponorogo mulai beragam. Satu lagi muncul komoditas dengan prospek cerah dikembangkan di Kota Reog, tepatnya di Desa Cepoko, Kecamatan Ngerayun, yakni kacang Sacha Inchi / Kacang Bintang.
Panen perdana bahkan berhasil dilakukan oleh petani yang tergabung di Pokmas Kacang Bintang, Sabtu (27/8/2022). Pokmas Kacang Bintang sendiri dalam mengembangkan komoditas ini, telah menjalin kemitraan dengan PT. Sacha Inchi Sejahtera dan CV Bintang Cahya Buana.
Komoditas ini, diungkapkan Direktur PT. Sancha Inchi Sejahtera Sutikno tergolong mudah dikembangkan. Karena termasuk golongan tanaman liar, sehingga tidak memerlukan perawatan khusus. Selain itu, diyakini tahan terhadap cuaca ekstrem dan hama.
Keunggulan lainnya, Kacang Bintang bisa dikembangkan di lahan tersendiri maupun tumpang sari. Masa tanamnya juga relatif singkat, 6-7 bulan sudah bisa dipanen dengan masa panen sampai usia 20 tahun.
Dari segi nilai ekonomis, Kacang Bintang menguntungkan karena memiliki nilai jual tinggi. Selain itu, pangsa pasarnya masih terbuka lebar.
“”Tanaman dikatakan mempunyai jangka seumur hidup. 7 bulan sudah bisa dipanen, setiap bulan bisa dipanen. 1 Hektare tidak kurang 15 juta sebulan. Kelebihan lainnya tidak kenal musim, bisa tumpang sari, hamanya juga kurang,” ujar Sutikno.
Keuntungan lain bagi petani, dengan sistem kemitraan 10 tahun, Sutikno menjamin hasil panen petani berapapun banyaknya siap untuk menampung.
Dengan berbagai keunggulan ini, Wakil Bupati Bunda Lisdyarita menyambut positif dikembangkannya komoditas Kacang Bintang di Ponorogo. Jika terbukti berhasil dan menguntungkan petani, ia berharap Kacang Bintang bisa dikembangkan di wilayah lain di Ponorogo yang memiliki kondisi cuaca yang mirip dengan wilayah Ngrayun.
Namun ia berharap, mitra petani dapat memberikan jaminan harga komoditas Kacang Bintang bisa stabil, tidak anjlok.
“Kacang Bintang Insya Allah prospek, tinggal nanti harganya jualnya harapan kami tidak turun naik, seperti porang. Petani biasanya khawatir dengan naik turunnya harga,” ujar Bunda Lisdyarita.