Memaknai Spirit Perjuangan Leluhur Melalui Kirab dan Jamasan Pusaka

Pernah di suatu masa, Ponorogo terbagi menjadi empat daerah pemerintahan, yakni Kuto Wetan, Pedanten, Polorejo, dan Sumoroto. Adanya kekosongan kepemimpinan di Kadipaten Pedanten dan Polorejo, Tiga Kadipaten dilebur menjadi satu di tahun 1837 (menyusul kemudian Kadipaten Sumoroto bergabung di tahun 1887 M).

Bersamaan dengan penyatuan pemerintahan kadipaten itu, pusat pemerintahan yang dipimpin oleh Adipati Mertonegoro berpindah dari Kuto Wetan (Kelurahan Setono) ke Kota Tengah (pusat pemerintahan saat ini). Untuk mengenang perpindahan pusat pemerintahan itu, Kirab Pusaka dan Lintas Sejarah digelar Pemkab Ponorogo, Rabu (18/7/2023).

Kirab pusaka diawali dengan diserahkannya tiga pusaka Kabupaten Ponorogo –Tombak Kiai Tunggul Naga, Angkin Cinde Puspita, dan Songsong Kiai Tunggul Wulung–, oleh Kang Bupati Sugiri Sancoko yang memerankan Adipati Mertonegoro kepada manggala lampah untuk diserahkan kepada bergadha pembawa pusaka.

Dengan kawalan bergadha pusaka, dayang-dayang, dan pasukan berkuda, tiga pusaka Kabupaten Ponorogo tersebut diboyong ke Kota Tengah. Bak arak-arakan kerajaan, Kang Bupati Sugiri Sancoko (Adipte Mertonegoro), Wakil Bupati Bunda Lisdyarita (warangka dalem), Sekda Agus Pramono (patih nagari), dan jajaran Forkopimda (sentana dalem nayaka praja) mengiringi di belakangnya dengan menaiki kereta kuda.

Di sepanjang rute kirab –Jl. Niken Gandini, Jl. Batoro Katong, Jl. Ahmad Dahlan, Jl. HOS Cokroaminoto, Jl. Jendral Sudirman, dan Jl. Alun-alun Timur arak-arakan kirab disambut meriah oleh masyarakat.

Sampai di Paseban Alun-alun Ponorogo, bergadha pembawa pusaka kembali menyerahkan tiga pusaka tersebut kepada manggala lampah untuk diserahkan kepada patih nagari (Sekda Agus Pramono. Patih nagari menyerahkannya kepada Raden Panewu Kutho (Camat Kota) untuk diteruskan kepada bergadha penampa pusaka.

Tiga pusaka tersebut kemudian dijamas dengan air kembang setaman sebanyak tujuh kali. Air jamasan ini diambil dari tujuh sumber yang ada di Ponorogo. Usai dijamas pusaka kembali diserahkan oleh patih nagari kepada bergada pembawa pusaka untuk dibawa dan disimpan di Ndalem Pringgitan Rumah Dinas Bupati Ponorogo.

Tidak hanya sekedar melestarikan budaya, Kang Bupati Sugiri Sancoko ingin spirit perjuangan leluhur dijaga oleh generasi saat ini. Ia mencontohkan dari payung songsong kiai tunggul wulung, dapat mengambil spirit mengayomi yang dipimpin.

Tombak kiai tunggul nogo dimaknai seorang pemimpin harus mampu mengambil keputusan berani, tegas, dan tajam untuk kepentingan rakyatnya. Terakhir, angkin chinde puspito yang berupa sabuk, sebagai manusia dan pemimpin kita harus menahan diri dari hawa nafsu dan perbuatan tercela.

“Laku leluhur harus kita lestarikan dan spirit mereka harus kita teruskan. Jadi ini tidak hanya sekedar kegiatan tahunan belaka,” ujar Kang Bupati.

Bagikan