PONOROGO – Pada Rabu tengah malam, (25/6/2025), sebelum dikirab dan dijamas, Pusaka Agung Kabupaten Ponorogo yang disimpan di Ndalem Pringgitan di-bedhol, untuk dibawa ke Komplek Makam Bathoro Katong, di kawasan Kota Lama.
Lima pusaka yang diboyong adalah Payung Songsong Kiai Tunggul Wulung, Tombak Kiai Tunggul Nogo, Angkin Cinde Puspito, Kiai Pamong Angon Geni dan Tombak Kiai Bromo Geni.
Dikawal ratusan bergadha, kelima benda pusaka itu diarak dengan berjalan kaki menuju Kota Lama. Di sepanjang rute, lampu-lampu dimatikan, penerangan hanya berasal dari obor yang dibawa bergadha.
Meskipun dilangsungkan pada larut malam, ribuan warga tetap antusias menyambut prosesi ini. Mereka memadati titik-titik jalur yang dilewati kirab pusaka, menanti dengan khusyuk di tengah gelap malam dengan penerangan seadanya.
Sampai di Kota Lama, diterangi lilin-lilin di sepanjang jalan menuju Makam, Pusaka Agung Ponorogo tersebut diserahkan kepada kepada juru kunci untuk diinapkan sebelum dikirab dan di-jamas esok harinya.
Memaknai pusaka tersebut, Kang Bupati menekankan bahwa nilai utama dari prosesi ini bukan hanya pada benda pusaka, tetapi pada semangat dan nilai yang dilambangkannya.
“Pusaka yang paling ampuh di Ponorogo adalah bagaimana bahu membahu, saling memahami, saling mengerti, saling menyadari, sehingga ada kata tiga kalimat yang biasa saya sampaikan: bergandeng erat, bergerak cepat, menuju Ponorogo hebat,” tuturnya.
Kang Bupati juga mewedar makna pusaka Kiai Pamong Angon Geni yang dibuat pada masa pemerintahannya. Menurutnya, pusaka ini mencerminkan nilai yang harus dijunjung tinggi oleh setiap pemimpin.
“Artinya, pemimpin harus mampu menggembalakan api. Kalau api mampu digembalakan, maka akan memanasi, akan memberikan spirit, akan memberikan kehangatan kepada rakyat. Tapi, kalau salah mengelola api maka akan terjadi kebakaran,” jelasnya.