PONOROGO – Kemeja bermotif lawas, celana cutbray gombrong, sepatu pantofel mengkilap, rambut keriting palsu, kacamata hitam besar, hingga sisir di saku, semuanya kompak dikenakan para penonton.
Tak mau kalah dengan mereka, Kang Bupati Sugiri Sancoko bersama jajaran Forkopimda dan kepala perangkat daerah ikut serta mengenakan busana nyentrik khas era 80–90-an tersebut.
Malam itu, Jumat (8/8/2025), Alun-alun Ponorogo berubah menjadi lautan nostalgia dalam acara bertajuk “Dangdut Lawasan”, yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-529 Ponorogo.
Ribuan penonton larut dalam suasana tempo dulu, bersenandung bersama melantunkan lagu-lagu jadul yang dibawakan Difarina Indra, Silvi Kumala Sari, dan Sasya Arkhisna, dan Ngawi Jadul Masa Kini yang diiringi Grup Orkes Melayu (OM) Barista.
Lagu-lagu jadul lawas seperti, Bukit Berbunga, Mas Joko, Singkong dan Keju, Kereta Malam, Cubit-cubitan, Cantik, dan lagu yang pernah populer di masanya seakan menjadi kereta waktu yang menghantarkan kenangan masa lalu.
Kang Bupati menyebut event nostalgia ini tidak semata-mata hiburan, melainkan upaya merekatkan masa lalu dengan masa kini, dari kenangannya, seni, hingga nilainya.
“Hari ini kita kembali ke masa lawasan. Semua atribut model lawasan, ada jungkas, celana gombrang, kemeja jadul dan lainnya. Orang tua dan anak muda berbaur bisa menikmati dan berdiskusi cerita masa lalu. Semua menyatu dan nostalgia bersama,”ungkapnya