Methik Pari, Tradisi Syukur Panen Petani Glinggang

Soal pertanian, Ponorogo tidak hanya identik dengan produktivitas, tetapi juga budaya yang mengakar. Salah satunya tradisi Methik Pari yang digelar petani Desa Glinggang, Kecamatan Sampung, setiap musim panen tiba.

Pada Kamis, 30 April 2026, mereka kembali menggelarnya. Plt. Bupati Ponorogo, Bunda Lisdyarita, bersama Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur serta Forkopimda Ponorogo mengikuti rangkaian Methik Pari.

Prosesi dimulai dengan arak-arakan tumpeng dan ingkung dari balai desa menuju area persawahan. 

Setibanya di lokasi, para petani memanjatkan doa-doa keberkahan, kemudian tumpeng disantap bersama-sama.

Bunda Lisdyarita mengungkapkan bahwa tradisi Methik Pari telah diselenggarakan sejak 2017 dan masuk dalam agenda KEPO (Kharisma Event Ponorogo). Tradisi ini dinilai mampu menjaga budaya, serta semangat gotong royong petani dalam menjaga ketahanan pangan.

“Saya mengapresiasi petani Desa Glinggang yang terus berinovasi dan terus semangat bergotong royong dalam meningkatkan hasil pertanian,” ujarnya.

Semangat menjaga budaya ternyata berbanding lurus dengan menjaga produktivitas. Buktinya, para petani Glinggang tidak tertinggal dalam pemanfaatan teknologi pertanian. 

Mereka sangat fasih memanfaatkan teknologi modern, seperti combine, rotavator, rice transplanter, dan alat modern lainnya.

Penggunaan mesin modern, terang Bunda lisdyarita, tidak hanya dapat meningkatkan hasil pertanian, tetapi juga menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.

“Kita melihat teknologi sudah semakin canggih. Ini yang kita butuhkan agar anak muda mau bertani,” tambahnya.

Produktivitas sektor pertanian tidak hanya terlihat di Glinggang, tetapi juga di Ponorogo secara keseluruhan. 

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur, Heru Suseno, menyebutkan bahwa Ponorogo masuk dalam 10 besar lumbung padi di Jawa Timur dan konsisten memproduksi padi dalam jumlah melimpah.

Pada tahun 2025, Ponorogo berhasil menyumbang 436.300 ton gabah kering dari total produksi 10,4 juta ton gabah kering di Jawa Timur.

Pada April 2026, sekitar 6.000 hektare sawah telah memasuki masa panen, dengan rata-rata hasil 6,5 hingga 8 ton gabah per hektare.

“Saya bahagia Ponorogo sudah mengawali bagaimana membuat padi terus berproduksi dengan baik. Jawa Timur memiliki kepentingan besar terhadap ketahanan pangan, sehingga pada 2026 minimal hasilnya harus sama dengan tahun 2025,” ungkapnya.

Bagikan