Laku Tirakatan Sambut 1 Suro

Tepat saat pergantian menuju Tahun Baru Islam, ribuan warga dari empat penjuru mata angin menjalani laku tirakatan sebagai simbol penyucian diri dan refleksi batin, Senin (15/6/2026).

Pusat Kota Ponorogo menjadi titik temu mereka. Di titik itu, dibacakan salah satu pitutur agung dari Serat Paniti Baya, naskah kuno karya Panembahan Agung Panaraga, Adipati kedua Ponorogo.

Serat tersebut memuat 176 petuah moral dan spiritual atau wewaler yang menjadi pedoman hidup untuk menjauhi perilaku tercela yang dapat membawa kesengsaraan.

Tidak hanya itu, pada malam yang sakral tersebut juga digelar prosesi jamasan terhadap tiga pusaka agung Kabupaten Ponorogo.

Ritual pembersihan pusaka ini menjadi bentuk penghormatan kepada para pendahulu sekaligus upaya menjaga nilai-nilai sejarah dan budaya yang diwariskan kepada generasi penerus.

Selain prosesi spiritual, masyarakat juga disuguhi penampilan “Jawara Bhumi Warok Ponorogo”, seni bela diri tradisional khas Ponorogo yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Bumi Reog.

Sekretaris Daerah Kabupaten Ponorogo, Agus Sugiarto, berharap tradisi tirakatan 1 Suro dapat membawa dampak positif bagi daerah dan masyarakat.

Menurutnya, semangat kebersamaan yang tercermin dalam tradisi tersebut diharapkan mampu mendorong terwujudnya masyarakat yang semakin harmonis dan sejahtera, serta bersama-sama membawa Bumi Reog menjadi lebih baik dan semakin maju.

“Ini tradisi yang memiliki makna mendalam. Terima kasih telah nguri-uri dan menghidupkannya kembali. Semoga membawa kebaikan bagi Ponorogo,” ujarnya.

Bagikan