Kirab Pusaka dan Lintas Sejarah Grebeg Suro Kabupaten Ponorogo kembali menjadi daya magnet masyarakat. Sejak siang (15/6/26) hingga petang lautan manusia memadati sepanjang rute kirab untuk menyaksikan tradisi menyambut 1 suro tersebut.
Kirab dimulai dari kawasan Kota Lama di Area Makam Bathoro Katong, kemudian melintasi Jalan Bathoro Katong, Jalan KH Ahmad Dahlan, Jalan HOS Cokroaminoto, Jalan Jenderal Sudirman, dan berakhir di Paseban Alun-Alun Ponorogo sebagai simbol perpindahan pusat pemerintahan dari Kota Lama menuju Kota Baru.
Barisan terdepan membawa tiga pusaka agung Kabupaten Ponorogo, yakni tiga pusaka Aji Kadipaten Ponorogo berupa Tombak Kiai Tunggul Naga, Angkin Cinde Puspito, dan Songsong Kiai Tunggul Wulung. Kemudian 2 pusaka baru, yakni Kiai Pamong Angon Geni dan Tombak Kiai Bromo Geni.
Arak-arakan kemudian disusul kereta kuda yang membawa Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita, jajaran Pemerintah Kabupaten Ponorogo, Forkopimda, serta berbagai instansi dan lembaga. Prosesi tersebut menjadi simbol napak tilas perjalanan sejarah Ponorogo dari Kota Lama di Desa Setono menuju Kota Ponorogo saat ini.
Melewati rute sejauh 7 km, antusias masyarakat tidak pernah surut hingga menjelang petang. Semakin meriah, kala Plt. Bupati Ponorogo Bunda Lisdyarita dan peserta kirab lainnya menyebarkan jajanan dan snack di sepanjang jalan yang langsung diserbu masyarakat.
Sampai di Paseban, acara sakral dan khidmat pun dimulai. Para bergadha menyerahkan kelima pusaka kepada Patih Nagari (Sekretaris Daerah) untuk dijamas dengan air kembang setaman sebanyak tujuh kali. Usai dijamas pusaka kembali diserahkan oleh patih nagari kepada bergada pembawa pusaka untuk dibawa dan disimpan di Ndalem Pringgitan Rumah Dinas Bupati Ponorogo.
Ditemui usai prosesi, Bunda Lisdyarita menyampaikan rasa haru dan apresiasi kepada masyarakat yang selalu antusias dalam meramaikan grebeg suro. Kirab Pusaka ini, terangnya merupakan upaya mengenang sejarah Ponorogo, nguri-nguri budaya, sekaligus bentuk doa agar Ponorogo selalu diberi keselamatan dan kedamaian.
“Masyaallah warga tumplek blek sejak siang hingga petang. Ini adalah nguri-nguri budaya dan kita berdoa agar Ponorogo selalu diberi kesehatan, keselamatan, serta sejahtera,” terangnya.
Ia juga menyebut, tingginya partisipasi masyarakat yang memeriahkan Kirab Pusaka Grebeg Suro juga mendorong perputaran ekonomi lokal. Di sepanjang jalan, banyak para pedagang kaki lima dan pelaku UMKM nampak laris berjualan dan merasakan kenaikan pendapatan yang signifikan.
“Alhamdulillah ekonomi ikut berjalan, banyak para pedagang dan UMKM di sepanjang jalan, masyarakat ikut berbelanja. Semoga Ponorogo semakin sejahtera,” ujarnya.