LEBARAN Idulfitri selalu menjadi momen istimewa bagi para perantau dan diaspora Ponorogo. Momen satu tahun sekali ini menjadi kesempatan bertemu keluarga dan kembali memutar kenangan mereka akan tanah kelahiran. Tidak kalah penting, menguatkan jejaring dengan para diaspora lain, bagaimana ikut terlibat dalam memajukan Kota Reog dan masyarakatnya.
Tujuan tersebut coba dielaborasi, Senin (24/4/2023) malam melalui halal bi halal bersamaan dengan menggelar Pagelaran Reog Ponorogo di depan Pendopo Agung Kabupaten Ponorogo yang digelar Sedulur Warok Ponorogo (SWP) Bekasi dan Sedulur Warok TNI Polri (SWTP) Ponorogo Se-Jabodetabek, dua sayap organisasi Pawargo (Paguyuban Warga Ponorogo).
“Kami di Pawargo selama ini ingin betul menyatukan masyarakat Ponorogo di manapun domisilinya. Berharap potensinya bisa bermanfaat besar untuk kemajuan Ponorogo dan keluarga besar Ponorogo di mana saja,” ujar Ketua umum Pawargo, Susiwijono Moegiarso.
Keinginan berkontribusi bagi Ponorogo, lanjut Susiwijono, sangat kuat tertanam di hati para diaspora dan perantau Ponorogo. Satu contohnya, di tanah perantauan, mereka turut melestarikan dan mengembangkan kesenian Reog Ponorogo.
Baca juga :
- Unjuk Budaya, Kawal dan Tagih Janji Usulan Reog ke UNESCO
- 10 Miliar untuk Permakanan Panti Asuhan di Ponorogo

“Sebagai warga Ponorogo yang tidak bisa meninggalkan Kesenian Reog kami terus mendorong mengembangkannya. Di Jabodetabek setiap bulan purnama rutin diadakan acara dan di Anjungan Jawa Timur TMII, Pawago paling aktif dari pada daerah lain,” terangnya.
Keinginan kuat turut membangun Ponorogo sangat diharapkan oleh Kang Bupati Ponorogo. Bahkan sejak awal, ia berupaya membangun komunikasi kuat dengan Pawargo. Tujuannya tidak lain saling bergandeng erat untuk kemajuan Ponorogo dengan berbagai kontribusi yang diberikan.
“Pawargo keren, banyak orang-orang hebat. Saya pengen berguru kepada beliau-beliau. Ponorogo itu harus dipikirkan bersama-sama yang memiliki rasa handarbeni Ponorogo dan memiliki tumpah darah Ponorogo. Keselamatan, kemajuan, dan harkat martabat Ponorogo kita pikirkan bersama,” ucapnya.
Pada kesempatan tersebut juga diserahkan piagam penghargaan kepada 50 tokoh pegiat Reog Ponorogo yang telah berjasa dalam melestarikan dan mentransmisikan kesenian Reog Ponorogo kepada generasi berikutnya. Ada 50 orang terdiri dari mantan pembarong, jathil, bujang ganong, dan pemain musik yang mendapatkannya. Dua di antaranya adalah Mujayanah, generasi pertama jathil perempuan dan Wondo, purna pembarong yang berusia 69 tahun.