“Parikesit Dadi Ratu” lakon yang dimainkan Dalang Yatno Gondo Darsono saat pagelaran wayang kulit dalam rangka Bersih Desa Sidorejo, Kec. Sukorejo, Kabupaten Ponorogo, Selasa (23/7/2024).
Dalam jagat pewayangan, kisah Parikesit, putra dari Raden Angkawijaya (Abimanyu) dan Dewi Utari, memberikan pelajaran berharga tentang kepemimpinan yang bijaksana dan tangguh.
Sejak masih dalam kandungan, nasib Parikesit sudah terikat dengan peperangan besar Bharatayuda, di mana sang ayah gugur akibat tipu daya musuh.
Kisah unik dari masa bayi Parikesit mencuat ketika tanpa sengaja ia membunuh musuh besar, Aswatama.
Ketika Aswatama menyusup ke kemah Pandawa dan berniat membunuh Parikesit, bayi yang tengah tidur itu terbangun dan menendang keris Pulanggeni hingga menembus dada Aswatama, menyebabkan kematian musuh tersebut. Peristiwa ini menandai awal dari perjalanan hidup Parikesit yang penuh tantangan.
“Parikesit itu putra dari Abimayu dan Dewi Utari. Ketika kecil secara tidak sengaja sudah mampu membunuh Aswatama,” papar Kang Bupati.
Setelah dewasa, Parikesit diangkat sebagai raja. Lakon wayang Parikesit Dadi Ratu menggambarkan dilema yang dirasakan Parikesit saat menerima tanggung jawab sebagai pemimpin di usia muda. Rakyat Hastinapura pun sempat meragukan kemampuannya.
Untuk mempersiapkan dirinya Parikesit melalang buana belajar kepada kehidupan dan banyak guru. Dari perjalanan itu, ilmu pemerintahan, kepemimpinan, kebijaksanaan dan sebagainya ia kuasai.
Ketika dinobatkan sebagai Raja Hastinapura, Dengan tekad yang kuat, Parikesit berupaya melanjutkan perjuangan para leluhurnya untuk membangun negaranya menjadi negeri yang adil, makmur, dan sejahtera.
Ia juga mampu menyatukan kembali rakyat yang terpecah akibat perang.
“Kisah Parikesit semoga bisa menjadi pelajaran dan mampu menerjemahkannya, Desa Sidorejo bisa makmur,” tandasnya.