Ekonomi kreatif, baik yang bercorak modern maupun tradisional, sama-sama menjadi perhatian Kang Bupati Sugiri Sancoko untuk terus dikembangkan.
Salah satu wujud nyata dukungan tersebut ditunjukkannya saat melelang cincin akik miliknya dalam gelaran Bazar Akik dan Keris Samandiman 2, Sabtu (3/5/2025), di Kelurahan Ronowijayan.
Cincin berjenis Kecubung Kalimantan itu dibuka dengan harga awal Rp2,5 juta dan akhirnya terjual kepada Ketua DPRD Ponorogo, Dwi Agus Prayitno, di harga Rp3,9 juta.
Seluruh hasil lelang diserahkan kepada penyelenggara acara sebagai bentuk dukungan terhadap terselenggaranya bazar tersebut.

Menurut Kang Bupati Sugiri, bazar seperti ini bukan sekadar ajang jual beli, tetapi juga sarana edukasi bagi masyarakat.
Ia menyatakan keris tidak hanya dapat dipandang sebagai pusaka, namun juga sebagai representasi ilmu metalurgi kuno dan simbol kebudayaan tinggi yang diwariskan oleh nenek moyang.
“Bazar seperti ini harus disertai dengan edukasi, misalnya cara menempa keris, pengetahuan tangguh keris, dan seterusnya. Kemudian akik bagaimana cara memilih batu yang bagus, cara mengasah batu,” ucapnya.
Ia meyakini bahwa pendekatan edukatif merupakan cara efektif untuk mendekatkan keris dan akik kepada generasi muda, sehingga keduanya bisa berkembang dan bersanding dengan sektor ekraf lainnya.
“Keris yang dulu dipahami sebagai gaman atau simbol klenik, sekarang kita hijrahkan pemahamannya ke arah yang lebih ilmiah dan edukatif,” ucap Kang Bupati.
Lebih lanjut, Kang Bupati Sugiri mengungkapkan bahwa Ponorogo saat ini tengah berjuang untuk menjadi bagian dari UNESCO Creative Cities Network (UCCN) dalam kategori craft and folk art. Ia menargetkan agar pengakuan tersebut dapat diraih pada akhir tahun ini.
Karena itu, ia mengajak seluruh pelaku ekraf untuk bersama-sama memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di Bumi Reog.
“Saya sedang menjemput Ponorogo untuk masuk UCCN. Semoga akhir tahun bisa ditetapkan,” pungkasnya.