KKNT Agromaritim IPB, Belajar dan Berinovasi di Desa

Kabupaten Ponorogo kembali terpilih menjadi salah satu lokasi Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi Institut Pertanian Bogor (IPB). 

Kali ini, 15 desa di 3 kecamatan (Kec. Ngrayun, Pulung, dan Pudak) menjadi titik lokus 117 mahasiswa Fakultas Teknik dan Teknologi dalam menjalankan programnya.

Sebelum terjun langsung ke masing-masing desa, peserta KKNT diterima secara langsung oleh Plt. Bupati Bunda Lisdyarita bersama jajaran perangkat daerah di Pendopo Agung Ponorogo, Senin (6/7/26).

Dekan Fakultas Teknik dan Teknologi IPB, Slamet Budijanto menyebut bahwa KKNT tahun ini digelar selama 40 hari (6 Juli-14 Agustus). 

Mengambil tema “Pengembangan Berkelanjutan Masyarakat Argomaritim untuk mencapai Socio-Resilience”, KKNT bertujuan membekali mahasiswa menjadi problem solver dan pemimpin yang baik. 

Pada KKNT ini, mereka akan belajar dan berkontribusi dalam pemberdayaan masyarakat sekaligus memecahkan masalah yang ada bersama-sama.

“Mereka punya program pemberdayaan masyarakat, apa yang dibutuhkan masyarakat dipecahkan bersama. KKNT bertujuan membekali mahasiswa, biar mereka tahu inilah keadaan Indonesia dan kelak menjadi pemimpin yang tahu kondisi ril di masyarakat,” terangnya.

Slamet Budijanto menambahkan, bawa KKNT Inovasi telah 4 tahun berturut-turut dilaksanakan di Ponorogo.

Sebelumnya, pihaknya berhasil mengaplikasikan inovasi pengawetan sate ayam yang mampu bertahan hingga satu tahun. Ke depan inovasi tersebut bakal terus dikembangkan sehingga, mampu memperluas distribusi dan meningkatkan kualitas produk.

“Kami telah melakukan inovasi pengemasan sate ayam lebih awet. Sate Ponorogo bisa diawetkan 1 tahun, jadi bisa dinikmati untuk makanan haji misalnya. Target tahun depan nanti kita koordinasikan dengan Kementerian Haji agar lebih maksimal,” ungkapnya.

Plt. Bupati Bunda Lisdyarita menyambut baik hadirnya KKNT Inovasi IPB di Bumi Reog.

Kedatangan mereka, diharapkan mampu membawa angin segar yang kontribusinya bisa dirasakan masyarakat. Baik dalam menyalurkan inovasi, ilmu pengetahuan, teknologi, dan pemberdayaan.

“Kehadiran mahasiswa sangat kami nantikan untuk membawa inovasi baru ditengah masyarakat,” ungkapnya.

Melihat lokasi yang jauh dari kota dan masih kental dengan adat budaya, Bunda Lisdyarita berpesan untuk selalu menjunjung tinggi etika. Serta, selalu menjaga koordinasi dan komunikasi dengan tokoh dan masyarakat setempat. 

“Anggaplah seperti kota sendiri tetapi tetap ingatlah untuk menghormati kearifan lokal. Selalu menjalin koordinasi dengan kepala desa dan tokoh setempat agar program yang dibawa berjalan maksimal,” ungkapnya.

Bagikan