PONOROGO – Pemerintah Kabupaten Ponorogo kembali menghidupkan kebiasaan luhur laku tirakatan yang dahulu menjadi tradisi spiritual masyarakat Ponorogo.
Tepat tengah malam menjelang 1 Suro, ribuan warga dari empat penjuru mata angin melakukan perjalanan raga dan batin, dengan titik kumpul di Alun-alun Ponorogo. Tradisi ini menjadi simbol perjalanan suci dalam menyambut datangnya Tahun Baru Islam.
Di titik kumpul, Kamis (26/6/25), di Alun-alun Ponorogo Kang Bupati Sugiri Sancoko membacakan salah satu pitutur agung dari Serat Paniti Baya, tepatnya wewaler ke-27 dan 28.
Naskah kuno ini merupakan karya Panembahan Agung Panaraga, Adipati kedua Ponorogo, yang memuat 176 petuah moral dan spiritual (wewaler) sebagai panduan untuk menjauhi perilaku tercela yang dapat membawa kesengsaraan hidup.
Warga yang hadir juga disuguhi pertunjukan teatrikal kehidupan, yang menggambarkan perjalanan manusia melalui simbol-simbol warna. Pada puncaknya, seluruh warna ditiadakan sebagai lambang penyucian hati dalam proses laku tirakatan.
Tak kalah menarik, aksi Solah Mothik, seni bela diri tradisional dengan senjata pendek khas Ponorogo sepanjang satu hasta, turut ditampilkan.
Diperagakan dengan lincah oleh para pemuda, pertunjukan ini menjadi bagian dari upaya mengangkat kembali eksistensi Mothik agar lebih dikenal dan dicintai generasi muda Ponorogo.