PONOROGO – Layaknya panen raya, usai alih status dari IAIN menjadi UIN pada Mei 2025 lalu, UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo memiliki tujuh guru besar baru sekaligus.
Tujuh profesor dari berbagai bidang keilmuan tersebut resmi dikukuhkan dalam Sidang Senat Terbuka di Graha Watoe Dhakon, Sabtu (19/7).
Mereka adalah Prof. Dr. Hj. Khusniati Rofiah, M.S.I (Bidang Hukum Ekonomi Syariah), Prof. Dr. Muhammad Thoyib, M.Pd. (Bidang Manajemen Mutu Pendidikan Islam), Prof. Dr. Muh Tasrif, M.Ag. (Bidang Tafsir Tematik Isu-isu Sosial), dan Prof. Ahmad Choirul Rofiq (Bidang Sejarah Peradaban Islam).
Kemudian, Prof. Dr. H. Sutoyo, M.Ag (Bidang Ilmu Tasawuf), Prof. Dr. Ju’subaidi, M.Ag. (Bidang Penelitian dan Evaluasi Pendidikan), serta Prof. Iza Hanifuddin, M.Ag., Ph.D (Bidang Fiqih Muamalah).
Kang Bupati Sugiri Sugiri yang hadir pada momen besar itu mengungkapkan rasa bangga atas prestasi UIN Kiai Ageng Muhammad Besari yang tiada habisnya.
Ia menilai bahwa kampus ini semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat keunggulan pendidikan tinggi Islam di Indonesia, khususnya di Jawa Timur.
Ia juga berharap para guru besar mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, tidak hanya melalui pengajaran, tetapi juga melalui karya ilmiah yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Bangga kami tidak bisa disampaikan dengan kata-kata. Pesan saya ketika ada karya ilmiah, ini bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari, yang tentunya untuk kesejahteraan rakyat,” ungkapnya.
Rektor UIN Kiai Ageng Muhammad Besari, Prof. Evi Muafiah, menegaskan bahwa pengukuhan guru besar ini adalah bagian dari komitmen kampus dalam menyediakan layanan pendidikan berkualitas kepada mahasiswanya.
Menurutnya, transformasi kelembagaan harus diikuti dengan peningkatan mutu sumber daya manusia.
“Pengukuhan ini ketika IAIN sudah bertransformasi ke UIN. Dalam waktu tidak lebih 4 tahun kita sudah mempunyai 14 professor. Ini sebagai tanda bahwa kami betul-betul berusaha menjadi kampus yang sesuai dan melampaui ekspektasi masyarakat untuk mencetak generasi muda yang berkualitas,” ungkapnya.