Penurunan angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Ponorogo setiap tahunnya tidak membuat pemerintah kabupaten berpuas diri.
Melalui Dinas Kesehatan, pemkab mempercepat koordinasi layanan sejak awal tahun dengan mengumpulkan kepala puskesmas dan para bidan dalam rapat kerja di Aula Hotel Gajah Mada, Kamis, (12/2/2026).
Plt Bupati Ponorogo Bunda Lisdyarita menegaskan pencegahan angka kematian ibu dan bayi merupakan pekerjaan lintas sektor yang membutuhkan konsistensi jangka panjang.
Karena itu, koordinasi antar fasilitas layanan kesehatan dinilai penting agar setiap unit dapat menjalankan fungsinya secara maksimal.
“fasilitas itu penting, namun yang tidak kalah penting SDM-nya. Maka bidan sebagai ujung tombak melayani ibu hamil, harus lebih siap, lebih telaten, dan kembangkan kompetensinya,” tegasnya.
Ditegaskannya, setiap perempuan harus mendapatkan akses perawatan berkualitas selama kehamilan, persalinan, hingga masa setelah melahirkan.
Di saat yang sama, fasilitas kesehatan diharapkan memperkuat edukasi kepada ibu dan keluarga mengenai kondisi kehamilan dan perawatan bayi.
“Posyandu, puskesmas, dan bidan harus memberikan pemahaman tentang kondisi ibu dan bayi, baik kepada ibu maupun keluarganya, agar semua pihak mengetahui kebutuhan yang harus dipenuhi untuk menjaga kesehatan keduanya,” ujar Lisdyarita.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Ponorogo Dyah Ayu Puspitaningarti menyebutkan angka kematian ibu pada 2025 tercatat lima kasus, turun dari 11 kasus pada tahun sebelumnya. Angka kematian bayi juga menurun dari 121 kasus menjadi 96 kasus.
Pada 2026, Dinas Kesehatan menargetkan tidak ada lagi kematian ibu dan angka kematian bayi tidak bertambah dari 12 kasus yang telah tercatat.
Target tersebut, kata Dyah, hanya dapat dicapai melalui komitmen bersama seluruh fasilitas layanan kesehatan untuk meningkatkan kewaspadaan serta mutu penanganan.
Dinas Kesehatan berharap sinergi antara posyandu, puskesmas, rumah sakit dan tenaga bidan dapat memperkuat sistem deteksi dini serta mempercepat penanganan kasus risiko tinggi, sehingga keselamatan ibu dan anak di Ponorogo terus meningkat.
“Kita berkomitmen bersama, tidak ada kematian ibu pada 2026. Untuk kematian bayi yang sudah tercatat 12 kasus tahun ini, tidak boleh bertambah,” ujar Dyah.