Pemkab Ponorogo Dorong Percepatan Penuhi Tingkat Hunian Dan Hibah Pasar Legi

Tingkat hunian Pasar Legi yang masih sekitar 70 persen dari kapasitas menjadi perhatian khusus Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko. Meskipun kunci lapak sudah diserahkan, ada pedagang yang sampai saat ini belum menempati kios/lapak yang disediakan.

Terkait dengan hal ini, Kang Giri akan segera menyurati para pemegang kios. Jika sampai batas waktu yang ditentukan belum menempati kios, Pemkab akan mengalihkan kios kepada pedagang lainnya.

“Terutama para pedagang yang kosong kami surati untuk segera menempati stand. Kalau tidak menempati dalam waktu tertentu, kami limpahkan kepada pedagang lain,” tutur Kang Giri ketika ditemui selepas memimpin rapat pengelolaan Pasar Legi di Ruang Bantarangin, Selasa (12/10/2021).

Selain tingkat hunian, Pemkab Ponorogo terus menjalin komunikasi dengan Kementerian PUPR, terkait penuntasan proses hibah aset Pasar Legi dari Pemerintah Pusat kepada Pemkab Ponorogo. Di mana hingga saat ini aset Pasar Legi masih ada di Balai Prasarana Permukiman Wilayah Jawa Timur Ditjen Cipta Karya Kementrian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (Kemen PUPR).

“Inikan pengelolaan dari kementerian PUPR belum diserahkan kepada kami secara hukum. Kami segera bersurat kepada Kementerian PUPR. Mudah-mudahan agar segera diserahkan kepada kami agar bisa mengelola 100 persen. Sehingga kami bisa berkreasi lebih,” terangnya.

Jika dua hal tersebut dapat segera dituntaskan, Pemkab Ponorogo bisa leluasa dalam mengelola Pasar Legi untuk bisa melakukan percepatan peningkatan perekonomian di Bumi Reyog. Sebagai informasi, perdagangan menjadi sektor tertinggi kedua penyumbang PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Ponorogo.

Di antara rencana Pemkab Ponorogo untuk memaksimalkan sektor ini akan menjadikan Pasar Legi sebagai pusat grosir hasil bumi petani Ponorogo.

“Saya ingin membangun pasar grosir di pasar yang direlokasi itu. Kami punya varian hasil bumi yang luar biasa. Biar nanti ada channel dengan Keramat Jati, Keputran, Wonogiri, dan lainnya biar terjadi perdagangan yang besar,” ungkapnya.

“Tapi jamnya kita batasi. Misalnya grosir jam 5 sore sampai 1 malam. Jam 1 malam sampai jam 5 melayani obrok. Jam 6 pagi sampai sore untuk pengunjung yang belanja harian,” imbuhnya.

Bagikan