Gelombang tuntutan kepada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) untuk merekomendasikan Reog masuk Daftar Warisan Budaya Tak Benda UNESCO dari para seniman dan pecinta Reog Ponorogo tidak berhenti. Jika pada 5 malam sebelumnya dilakukan di Jalan Aloon-aloon utara, Selasa (13/4/2022) Orasi Budaya dilakukan di sepanjang Jalan HOS Cokroaminoto.
Orasi budaya kali ini terasa spesial. Pasalnya seniman Reog Ponorogo dan Jaranan asal Kediri datang langsung ke lokasi Orasi Budaya. Tidak kurang 50 seniman asal Kediri disambut dan didampingi Kang Bupati Sugiri Sancoko dan Wakil Bupati Bunda Lisdyarita ikut menyuarakan dukungan mereka.
“Kami dari seniman Kediri merasa bangga memiliki Reog yang berasal dari Ponorogo. Kita semua mengakui Reog Ponorogo berasal dari tlatah Bantarangin,” ujar Hary Pratondo, Ketua Komunitas Jaranan Kediri.
Hary pada kesempatan tersebut secara terbuka meminta kepada Mendikbud Ristek RI Nadiem Makarim untuk lebih mendahulukan kesenian kebanggaan Bangsa Indonesia, Reog Ponorogo untuk diajukan dalam daftar WBTB UNESCO.
“Pak Nadiem Makarim mohon Reog lebih diutamakan. Karena itu, kebangaan bangsa kita. Sedangkan jamu itu memang menyehatkan dan ada di semua negara,” ungkapnya.
Sementara itu, Kang Bupati Sugiri sangat terharu atas dukungan dari para seniman asal Kediri. Ia pun juga memohon kepada seluruh seniman jaranan di seluruh Indonesia turut memberikan dukungan perjuangan ini. Mengingat kesenian Reog dan Jaranan tidak bisa dipisahkan dan berasal dari rahim yang sama.
“Matur suwun atas dukungannya. Kami memohon kepada seniman Jaranan ikut mensupport dukungan pendaftaran Reog ke UNESCO. Sebab secara historis dan lahirnya sama, Reog dan Jaranan tidak bisa dipisahkan,” ungkap Kang Bupati.