Jagongan Budaya Menelisik Kepahlawanan Raden Martopuro

Sabtu malam (14/1/2023), Pendopo Kabupaten Ponorogo menjadi tempat Jagong Ponorogo yang diselenggarakan oleh Pusaka Bhumi Wengker dan Pakasa Gebang Tinatar. Mengambil tema Kepahlawanan Ponorogo Jagong kali ini membahas Raden Martopuro.

Jagongan Ponorogo kali ini menghadirkan 3 pemateri, yakni Sapto Priyono, Frenky Nur Fariya Pratama kepahlawanan Raden Martopuro, seorang mantri kopi asal Bungkal Ponorogo.

Sebagai seorang mantri kepedulian Raden Martopuro tidak diragukan lagi. Ia gelisah dengan kesejahteraan petani kopi akibat diwajibkannya menjual hasil panen petani kepada Belanda dengan harga murah. Ia bersama dengan istrinya membantu petani menjual kopinya sendiri di pasar yang membuat pihak Belanda merasa dirugikan.

Akibatnya terjadi perselisihan antara pihak Belanda dengan Raden Martopuro dan istrinya. Puncaknya ketika Raden Martopuro membunuh asisten Residen Ponorogo, Anthony William Adriaan Vincent dengan sebilah keris.

Kang Bupati Sugiri Sancoko menyambut positif Jagongan Ponorogo yang digelar setiap 35 hari sekali ini. Dengan semakin semakin banyaknya forum-forum kebudayaan, ia berharap generasi muda Ponorogo tidak akan pernah tercerabut dari akar budayanya.

“Saya mimpi membangun ponorogo tidak kehilangan momentum, saya ingin mampu nguri-nguri budaya. Acara hari ini sangat cerdas, kami dibantu berpikir bagaimana anak-anak muda kami hampir kehilangan akar budaya jika dibiarkan,” ujar Kang Bupati.

Bersamaan dengan itu, Kang Bupati memang menjadikan budaya menjadi modal utama dalam membangun Ponorogo. Ia yakin dengan kekuatan budaya yang dimiliki mampu meningkatkan kelas dan kesejahteraan masyarakat Kota Reog.

“Kita membangun berbasis budaya. Jagongan ini semoga bisa menelurkan sesuatu yang indah, nanti mengisi museum peradaban dan mulok pelajaran sekolah. Ke depan dengan memproyeksikan budaya, Ponorogo menjadi kota yang luar biasa,” ungkapnya.

Ia mencontohkan negara-negara maju seperti Korea Selatan, Jepang, Prancis, dan Turki mampu mensejahterakan masyarakat mereka karena berhasil menerjemahkan budayanya ke dalam pembangunan.

“Negara di manapun hari ini maju pesat yang mampu menghidupi masyarakat negaranya maju adalah yang yang mampu nguri-nguri misalnya budaya, Swiss, Paris, Turki, Korea, Jepang,” tuturnya.

Bagikan