Optimalisasi Deteksi Dini untuk Tangani Penyakit Tuberkulosis di Ponorogo

Sebagai salah satu masalah kesehatan terbesar di Indonesia, penyakit Tuberkulosis (TBC) menjadi perhatian serius berbagai pihak.

Di Indonesia, kasus TBC tercatat naik, dari 724.000 kasus pada 2022 menjadi 809.000 kasus pada 2023. Sedangkan di Ponorogo lebih dari seribu kasus ditemukan.

“Ketika saya membaca data terkait TBC di skala nasional masih menjadi garapan serius untuk kita pikir bersama. Di Ponorogo masih sekitar seribu lebih, karena nasional masih ada 809 ribu, rata-rata masih 1.540 per kabupaten,” ungkap Kang Bupati Sugiri ketika membuka Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia di Gedung PGRI Ponorogo, Rabu (15/5/24).

Melihat besarnya kasus tersebut, Kang Bupati Sugiri menekankan pentingnya kerja sama dan gerak cepat semua sektor terkait. Utamanya dalam deteksi dini dan penanganan kepada pasien TBC.

Dengan upaya itu, Kang Bupati meyakini Ponorogo akan menjadi wilayah yang bebas dari TBC dan mampu mempersiapkan generasi emas di masa depan.

“Semua tentu harus mempersiapkan bahwa menyiapkan indonesia emas yang paling kita siapkan dulu adalah generasi yang sangat berkualitas dari segi apapun,” ungkapnya.

Dalam upaya deteksi dini itu, Kepala Dinas Kesehatan Ponorogo Dyah Ayu Puspitaningarti mengatakan pemahaman terhadap gejala-gejala penyakit TBC penting dimiliki masyarakat.

Untuk itulah pada peringatan Hari Tuberkulosis 2024 ini pihaknya menggelar sosialisasi dan diskusi mengenai TBC. Pesertanya perwakilan pelajar tingkat sekolah menengah atas (SMA) di Kota Reog.

“Kita undang hari ini adek-adek dari SMA sederajat agar mereka bisa menjadi agen, bisa menyampaikan TBC seperti ini, mengenali, mencegahnya, sehingga bisa ditemukan, dan segera diobati secara tuntas,” ungkapnya.

Bagikan