Sosialisasi Pendampingan Balita Stunting, Bekali Orang Tua Cegah dan Atasi Stunting

Pemahaman orang tua merupakan kunci utama dalam pencegahan dan penanganan stunting pada anak. Atas dasar itulah, Rabu (19/6/24), TP-PKK Kabupaten Ponorogo menggelar “Sosialisasi Pendampingan Balita Stunting” di Gedung Sasana Praja Ponorogo.

Diikuti ratusan ibu yang memiliki anak stunting dan perwakilan TP-PKK di 11 desa lokus stunting dan 21 kecamatan, sosialiasi ini menghadirkan 3 narasumber ahli di bidangnya.

Ada dokter spesialis anak, dr. Kautsar Prastudia Eko Binuko M.Sc, Sp.A, Ahli gizi, Ririn Hari Wahyuni Ekawati S.Pd dan Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan, Lis Suwarni. Mereka satu persatu, secara rigid menjelaskan masalah stunting dari akar hingga solusinya.

Dijelaskan dr. Kautsar, bahwa stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi dalam jangka panjang. Stunting bisa disebabkan oleh malnutrisi yang dialami ibu saat hamil atau anak pada masa pertumbuhannya.

Gangguan perkembangan dan pertumbuhan anak itu, jelasnya, tidak hanya berdampak pada fisik balita namun juga menghambat perkembangan kecerdasan kognitif dan mengurangi resistensi anak pada penyakit. 

“Stunting itu kurang gizi jangka panjang, dan bahaya di seribu hari pertama karena itu masa pembentukan otak. Kalau disitu ada gangguan gizi maka pertumbuhan akan terganggu,” terang dr. Kautsar.

Melihat akibat di atas, Lis Suwarni mengatakan stunting harus segera dicegah dan ditangani sejak dini dan berkala. Caranya, dengan intervensi kepada sasaran kelompok secara langsung. 

Mulai dari intervensi kesehatan, pola hidup hingga pemenuhan gizi bagi remaja putri, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui hingga bayi atau balita umur 0-59 bulan.

“Membangun berat badan yang potensial sejak kandungan, itu butuh kalori. Yang pasti gizi menjadi hal utama. Kalau anak kita sehat sejak kandungan ibunya harus cukup gizi, tidak boleh ketinggalan protein hewani. Karena akan mempengaruhi tinggi badan potensial,” ungkapnya.

Sementara itu, Ririn Hari menambahkan pencegahan stunting dengan pemenuhan gizi seimbang hendaknya dikemas dengan olahan variatif. Orang tua dapat memanfaatkan makanan makanan lokal dengan pola B2SA yang tersedia di sekitar tempat tinggal.

“Agar anak tidak bosan ada berbagai resep olahan. Harapan kita bapak ibu bisa mengaplikasikan di rumah masing-masing untuk membuat makanan bervariasi, lebih bergizi tidak harus mahal, di sekeliling kita banyak,” ujarnya.

Tak kalah penting, Susilowati Sugiri Ketua TP-PKK Kab. Ponorogo mengatakan tidak hanya penanganan fisik saja, namun dalam pencegahan dan penanganan stunting juga diperlukan menyentuh hati anak.

“Menurut saya stunting tidak hanya masalah makan atau masalah kebutuhan gizi tetapi bagaimana menyayangi anak dengan baik. Penting memberi penghargaan kepada anak. Setiap hari kita harus minta maaf kepada anak. Barangkali kita berbuat kesalahan kepada anak jadi kita harus mengobati luka anak dari kita sendiri, jangan sampai anak kita jengkel kepada kita,” jelasnya. 

Sementara itu, Kang Bupati Sugiri berharap hadirnya acara ini dapat memberi bekal orang tua untuk mencegah dan mengatasi stunting bagi anaknya. Agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal. 

“Cara kita memperbaiki generasi penerus yang pertama adalah mengatasi agar bayi yang lahir tidak stunting. Pokoknya Ponorogo tidak boleh ada bayi yang lahir stunting agar anak anak menjadi hebat dan punya masa depan yang cerah,” ungkap Kang Bupati Sugiri Sancoko.

Bagikan