Thung… thung… gung…
Suara gong bende memecah kesunyian malam Kabupaten Ponorogo di sepanjang jalur Pringgitan Rumah Dinas Bupati Ponorogo sampai Gedong Setono kompleks makam pendiri kabupaten Ponorogo, Jumat (5/7/2024).
Suara itu menandai iring-iringan pasukan pembawa 3 Pusaka Agung Kabupaten Ponorogo, Pusaka Songsong Kiai Tunggul Wulung, Tombak Kiai Tunggul Naga, dan Angkin Cinde Puspita.
Dengan “topo bisu”, obor sebagai penerang, dan berjalan tanpa alas kaki, ratusan bergadha mengawal pusaka untuk dikembalikan ke Kota Lama komplek makam Raden Katong pendiri Ponorogo.
Sampai di Kota Lama, diterangi lilin-lilin di sepanjang jalan menuju kompleks makam, 3 Pusaka Agung Ponorogo tersebut diserahkan kepada kepada juru kunci untuk diinapkan sebelum dikirab dan di-jamas esok harinya.
Bukan hanya sekedar pusaka peninggalan masa lalu, Kang Bupati menyampaikan dari tiga pusaka itu mengandung spirit laku para pemimpin Ponorogo.

Songsong Tunggul Wulung ia maknai seorang pemimpin harus “memayungi” rakyat dari segala kesulitan yang dihadapi serta mampu membuat rakyat tenang dalam menjalani hidupnya.
Kemudian dari Songsong Tunggul Nogo dimaknai bahwa seorang pemimpin harus berani menjadi yang terdepan dalam perjuangan rakyat.
Sedangkan Angkin Cinde Puspito mengandung makna bahwa seorang memimpin harus menahan dirinya dari hawa nafsu duniawi.
“Kita tidak hanya mengarak pusaka, namun spirit yang ada makna tiga pusaka tersebut,” ucap Kang Bupati.