Dikenal sebagai kota budaya, Kabupaten Ponorogo tidak pernah kehabisan bibit-bibit seniman berbakat.
Sanggar Seni Granggang Suh salah satu buktinya yang konsisten memberikan ruang bagi generasi muda Ponorogo untuk belajar dan berkarya.
Pada Sabtu malam (14/12/2024), Gedung Amartha di Jalan Pramuka, Ponorogo, menjadi saksi kemeriahan pentas tahunan yang menampilkan tari, baca puisi, pantomim, cokekan, serta dua pertunjukan teater yang berhasil memukau penonton.
Pendiri Sanggar Seni Granggang Suh, LH, menjelaskan dua karya teater unggulan malam itu, yaitu “Tembang Baru Klinthing” dan “Tumbal Dewi Cokek”.
“Tembang Baru Klinthing”, yang dimainkan oleh anak-anak tingkat TK hingga SD kelas 6, mengisahkan legenda asal-usul Telaga Ngebel, sebuah cerita rakyat tentang sosok anak berwujud naga bernama Baru Klinthing.
Sementara itu, “Tumbal Dewi Cokek” menampilkan nuansa lebih gelap dan mistis. Diadaptasi dari karya monolog Herlina Syarifudin, pementasan ini dimainkan oleh siswa SMP hingga perguruan tinggi.

Kisahnya mengangkat kesenian cokekan yang hampir punah, dengan latar mitos yang berhasil menciptakan ketegangan para penonton.
“Awalnya, kami hanya menampilkan sastra dan teater ketika berdiri tahun 2012. Tapi sekarang karena semakin banyak peminat, kami menambah cabang seni seperti tari dan seni rupa. Pentas ini menjadi agenda wajib setiap tahun untuk terus melatih kemampuan anak-anak,” terang LH.
Pentas tahunan ini bukan sekadar ajang unjuk bakat, tapi juga wujud nyata regenerasi pelaku seni di Ponorogo. Hal ini disampaikan Wakil Bupati Ponorogo, Bunda Lisdyarita, yang turut hadir menyaksikan langsung penampilan para siswa Sanggar Seni Granggang Suh.
“Luar biasa, teater ini menjadi ruang untuk menyalurkan bakat dan melestarikan budaya lokal. Pentas seperti ini harus sering diadakan agar anak-anak muda terus memiliki wadah untuk berkarya,” ujar Bunda Lisdyarita dengan penuh apresiasi.