Genap 16 tahun sudah Komunitas Masyarakat Seni Solah Wetan merawat dan mengembangkan seni dan budaya.
Memperingati hari jadinya komunitas yang berdiri pada 29 Januari 2009 itu menggelar event “Jagong Kultur Rekam Jejak 16” digelar pada 26-28 Januari 2025 di Panggung Seni Ndaru Seto Jetis.
Selama tiga hari, belasan pertunjukan seni mulai dari tari, musik, hingga drama disuguhkan kepada masyarakat. Acara puncak ditutup dengan pagelaran wayang kulit oleh Ki Dalang Fatih Assegaf dan Ki Sugito, Selasa (28/1/2025).
Kang Bupati Sugiri Sancoko tak dapat menyembunyikan kebanggaannya kepada kiprah Solah Wetan atas konsistensi menjaga denyut nadi budaya di Ponorogo.
Ia menilai 16 tahun bukanlah waktu singkat, dan itu menunjukkan tingginya etos kerja, kecintaan, dan dedikasi masyarakat Ponorogo terhadap kesenian.
“Mudah-mudahan Solah Wetan tetap langgeng, dan saya support full kepada Solah Wetan,” ujarnya.
Solah Wetan, lanjutnya, bakal menjadi bagian penting dalam ekosistem pariwisata yang saat ini sedang dikembangkan pemkab. Seiring dengan ditetapkannya Reog Ponorogo sebagai Warisan Bunda Tak Benda UNESCO dan Ponorogo masuk komunitas jaringan kota kreatif UNESCO.
“Tugas kita adalah memastikan akselerasi budaya dan seni terus berkembang, tidak hanya Reog, tetapi juga kesenian lainnya apapun itu. Kami menempatkan Ponorogo sebagai kota wisata,” tambahnya.
Ia menegaskan bakal mendukung penuh atas kerja-kerja seni Komunitas Masyarakat Seni Solah Wetan, dan bakal memasukkan Rekam Jejak dalam kalender event tahunan Ponorogo.
“Mulai hari ini masuk kalender event Kabupaten Ponorogo,” ucapnya.