Rencana Kang Bupati Sugiri untuk menjadikan Ponorogo sebagai kabupaten organik semakin mendekati kenyataan. Pasalnya, banyak lembaga dan petani memberikan dukungannya serta mulai beralih menggunakan pupuk organik di lahan mereka.
Seperti yang dilakukan oleh Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) dan Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) PCNU Ponorogo. Bekerja sama dengan PT Andafa Agro Indo, mereka resmi meluncurkan produk pupuk organik Bio SPF.
Peluncuran ini bertepatan dengan acara Tasyakuran Metik dan Shodaqoh Masa Tanam II yang diselenggarakan oleh Kelompok Tani “Tani Subur” di kawasan persawahan Kelurahan Kepatihan, Minggu (13/4/2025).
Purwanto, pengurus LP2NU Ponorogo, menjelaskan bahwa pupuk Bio SPF telah diuji coba di lahan seluas 15 hektare di setiap kecamatan. Ia menargetkan penggunaan pupuk ini dapat menekan biaya produksi musim tanam kedua hingga 30 persen.
“Kami aplikasikan pupuk ini seminggu sekali sebelum masa tanam. Setelah itu, setiap tujuh hari sekali pasca tanam, lahan disemprot lagi dengan pupuk Bio SPF,” terangnya.
Kang Bupati Sugiri Sancoko menyampaikan apresiasinya atas peran aktif NU dalam mendukung program pertanian organik yang diusungnya.
Ia menekankan pentingnya transisi dari pupuk kimia ke pupuk organik karena manfaatnya yang besar, seperti kemampuan tanah menyerap air lebih baik, biaya produksi lebih rendah, harga jual hasil panen yang lebih tinggi, serta menghasilkan bahan pangan yang lebih sehat.
“Panen sehat itu yang tidak menggunakan bahan kimia. Saat musim hujan, tanah yang diberi pupuk organik mampu menyerap air lebih baik. Pupuk organik itu murah, tapi hasil panennya justru lebih mahal,” jelasnya.
Lebih lanjut, Kang Bupati menambahkan bahwa penggunaan pupuk organik juga membantu pemerintah pusat dalam mengurangi beban subsidi pupuk.
“Kalau kita bergerak cepat dan bergotong royong menuju pertanian organik, kita membantu pemerintah mengurangi beban subsidi. Bisa menggunakan pupuk organik dari pabrik atau memanfaatkan bahan di sekitar kita seperti kotoran sapi, kambing, dan lainnya,” ujarnya.
Ia berharap penggunaan pupuk organik dapat diterapkan lebih luas di seluruh wilayah Ponorogo, demi mencapai target 25.000 hektare sawah organik pada tahun 2030.
“Ini demi menyelamatkan lingkungan dan memastikan generasi mendatang mendapatkan asupan yang sehat,” pungkasnya.