Menjaga Tradisi, Menggerakkan Ekonomi, Sampai Jumpa di Grebeg Suro 2026

PONOROGO – Resmi ditutup Kang Bupati Sugiri Sancoko, Kamis (26/6/2025) malam,  Grebeg Suro 2025 menjadi panggung megah kebudayaan dan industri kreatif Kabupaten Ponorogo.

Ada 32 event yang menghadirkan banyak cerita dan mendorong perputaran ekonomi di Kota Reog. Tentu saja ada Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXX dan Festival Reog Remaja XXI yang tahun ini kembali masuk Kalender Event Nusantara (KEN).

Dari 41 grup yang tampil, akhirnya Reog Brawijaya dari Universitas Brawijaya Malang menjadi yang terbaik, dan berhak membawa pulang kembali Piala Presiden RI.

Sementara dalam Festival Reog Remaja XXI dengan jumlah 26 peserta, SMPN 1 Ponorogo dengan grup Singo Taruno Budoyo keluar sebagai juara dan berhak atas Piala Suromenggolo.

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, yang hadir langsung dalam penutupan Grebeg Suro di Alun-alun Ponorogo pada 26 Juni 2025, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap komitmen Ponorogo dalam menjaga budaya nasional.

Menurutnya, Reog Ponorogo merupakan wujud nyata kekayaan budaya Indonesia, yang mencerminkan keragaman luar biasa atau apa yang ia sebut sebagai “mega diversity”.

Dalam Reog, katanya, hadir perpaduan elemen seni yang kaya, mulai dari musik, tari, hingga manuskrip, yang mencerminkan tingginya nilai kreativitas budaya bangsa.

Apresiasi juga datang dari Kementerian Pariwisata RI. Fajar Hutomo, perwakilan Kemenpar RI, secara resmi menyerahkan Piagam KEN 2025 kepada Kang Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko.

Menurutnya, event tersebut berhasil menghadirkan perpaduan apik antara seni, budaya, dan kreativitas yang dikemas secara profesional.

“FNRP dan Grebeg Suro adalah wujud nyata kreasi budaya yang dikemas secara menarik dan berkelas. Saya yakin event ini punya potensi luar biasa untuk menjadi event internasional. Banyak grup Reog dari luar negeri yang pasti ingin sowan ke tanah kelahiran Reog,” ungkap Fajar.

Kang Bupati Sugiri Sancoko menyampaikan Grebeg Suro 2025, bukan hanya perayaan tahunan, namun ada misi panjang menjadikan budaya sebagai kekuatan utama ekonomi Ponorogo.

Pintu itu sangat terbuka. Apalagi Setelah Ponorogo mendapatkan status Warisan Budaya tak Benda UNESCO, dan kini tengah berjuang menjadi bagian dari UNESCO Creative Cities Network (UCCN).

“Grebeg Suro hari ini penutupan. Ada serangkaian event, dan ini mampu menggerakkan ekonomi Ponorogo. Semoga budaya tumbuh dengan baik, ekonomi tumbuh dengan baik,” ucapnya.

Bagikan