Bumi Honggolono, Desa Golan, Kecamatan Sukorejo, menjadi salah satu titik penting dalam pelestarian kesenian Reog Ponorogo.
Dari tempat inilah lahir grup Galuh Suryo Honggolono, yang kini dikenal sebagai salah satu kelompok reog terbesar di Bumi Reog.
Sebagai bagian dari tradisi tahunan, Galuh Suryo Honggolono rutin menggelar gebyakan reog untuk menutup Bulan Suro.
Pada Jumat (26/7/2025), kemeriahan acara tampak begitu terasa. Sebanyak 72 dadak merak tampil secara bergantian, lengkap dengan penari jathil dan bujangganong.
Para seniman tidak hanya berasal dari Bumi Honggolono, tetapi juga dari berbagai grup reog yang tersebar di wilayah Kota Reog.

Wakil Bupati Ponorogo, Bunda Lisdyarita, turut hadir dalam acara tersebut. Ia menikmati pertunjukan sambil berbaur dengan para seniman reog..
Bunda Lisdyarita mengapresiasi semangat para seniman yang terus menjaga dan mengembangkan kesenian Reog Ponorogo.
Ia menyatakan bahwa tanpa peran mereka, Reog tidak mungkin diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO.
Ia berharap konsistensi tersebut bisa terus dijaga, sehingga reog tidak hanya lestari namun menghidupi.
“Kini tugas kita bersama adalah menjaga Reog agar tidak hanya lestari, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi,” tegasnya.