Dahono Wengker Reborn, Disutradarai Kang Bupati Sugiri Suguhkan Intrik Politik, Cinta, dan Pengkhianatan di Era Majapahit

PONOROGO – Pernah berjaya di era 90-an, grup ketoprak asal Ponorogo, Dahono Wengker, kembali dibangkitkan oleh Kang Bupati Sugiri Sancoko. Momennya pun istimewa, bertepatan dengan peringatan Hari Jadi ke-529 Kabupaten Ponorogo.

Disutradarai langsung oleh Kang Bupati Sugiri Sancoko, Dahono Wengker Reborn, tampil di panggung utama Alun-Alun Ponorogo, Kamis (7/8/2025).

Lakonnya, “Sumilaking Mendung Temayung”, mengisahkan era akhir Kerajaan Majapahit. Kala itu, Kedaton Majapahit digambarkan bergetar, bukan hanya karena guncangan politik, tetapi juga gejolak hati para tokohnya.

Damarwulan, Minak Jinggo, dan Kencono Wungu terjebak dalam pusaran yang sama, cinta, tahta, dan syahwat kekuasaan. Kencono Wungu, permaisuri yang cantik namun tegar, berada di tengah pilihan sulit.

Namun, seperti janji kisah klasik, badai selalu memiliki ujung. Kehadiran Damarwulan, seorang pencari rumput yang tulus memperjuangkan cinta dan menjaga kejayaan Majapahit, perlahan mengusir awan kelam, menghadirkan kedamaian di Bumi Kedaton. 

Kang Bupati meracik cerita “Sumilaking Mendung Temayung” layaknya memasak rawon yang pekat, aroma intrik politik bercampur asmara, dibumbui strategi licik, lalu disiram kuah pengkhianatan.

Pentas ini mengaduk-aduk perasaan penonton, antara gemas pada tipu daya, kagum pada strategi, dan haru pada kesetiaan.

“Sumilaking Mendung Temayung adalah cerita di akhir masa Majapahit. Ada perjuangan, suksesi, asmara, strategi, dan pengkhianatan, semuanya kami racik dalam satu cerita,” ujarnya membuka pentas ketoprak.

Bagikan