Tanpa pesta kembang api, perayaan pergantian tahun di Ponorogo tetap hidup. Pemerintah Kabupaten Ponorogo menyiapkan lima titik perayaan sebagai ruang berkumpul masyarakat menyambut 2026.
Lima titik itu di Gedung Ekraf, Alun-alun Ponorogo, kawasan wisata Telaga Ngebel, Eks Pasar Lanang, serta kawasan wisata Monumen Reog dan Museum Peradaban (MRMP).
Musik, seni modern, hingga kesenian tradisional menjadi pilihan hiburan. Masyarakat datang bersama keluarga, menikmati pergantian tahun tanpa hiruk-pikuk pesta kembang api.
Bunda Lisdyarita turut hadir menemani masyarakat merayakan tahun baru di Kawasan Wisata MRMP. Di bawah Monumen Reog setinggi 126 meter, perayaan berlangsung lebih khidmat.
Sholawat dan doa bersama dipanjatkan untuk Ponorogo dan bangsa Indonesia, dengan harapan keselamatan, kebangkitan, dan kejayaan di tahun 2026.

Bunda Lisdyarita mengatakan, keputusan meniadakan pesta kembang api merupakan bentuk empati terhadap korban bencana di sejumlah daerah.
“Tahun ini kita tidak mengadakan pesta kembang api. Ini bentuk empati kita kepada saudara-saudara di Sumatera yang sedang menghadapi musibah,” ujarnya.
Di titik tersebut, geliat ekonomi juga terlihat. Sejumlah pedagang, penyedia wahana permainan, hingga pelaku usaha kecil memanfaatkan ramainya pengunjung di kawasan MRMP. Anak-anak bermain, keluarga berkumpul, dan roda ekonomi bergerak nyata.
Bunda Lisdyarita menambahkan, pembangunan Monumen Reog dan kawasan MRMP sejak awal tidak hanya dimaksudkan sebagai penanda kebangaan atas budaya Ponorogo. Namun, MRMP juga diharapkan menjadi penggerak ekonomi baru yang menyejahterakan masyarakat.
“Alhamdulillah, Monumen Reog membawa keberkahan bagi masyarakat. Banyak pedagang bisa berjualan di sini dan dagangannya laris,” katanya.