Dua tahun sudah Kang Bupati Sugiri Sancoko dan Wabup Bunda Lisdyarita mengemban amanah memimpin Ponorogo. Selama dua tahun itu pula berbagai program strategis dijalankan. Sektor pembangunan manusia, pariwisata, kebudayaan, infrastruktur, dan sektor lainnya disentuh dan menunjukkan hasil positif.
Hal ini terungkap pada malam refleksi 2 tahun kepemimpinan Kang Bupati Sugiri Sancoko dan Wabup Bunda Lisdyarita yang digelar, Senin malam (27/2/2023) di Pendopo Agung Kabupaten Ponorogo.

Di sektor pembangunan manusia jelas terlihat bagaimana pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat menunjukkan tren positif. Hal ini bisa dilihat dari kenaikan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) dari angka 71,06 di tahun 2021 menjadi 71,87 di tahun 2022.
Di saat bersamaan angka kemiskinan menurun dari 10,26 % di tahun 2021 menjadi 9,32% di tahun 2022; indeks gini (ketimpangan pendapatan) menurun dari 0,369 menjadi 0,336; serta prevalensi stunting dari 20% di tahun 2021 menjadi 14,2% di tahun 2022.
Baca juga :
- Sidang Paripurna LKPJ 2022, Kang Bupati Sampaikan Capaian Pembangunan di Ponorogo
- Musrenbang 2023, Kang Bupati Sugiri Paparkan Arah Pembangunan 2024
Di sektor ekonomi dengan pertanian menjadi tumpuan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Ponorogo juga menunjukkan perkembangan positif. Pembangunan sumur dalam, saluran irigasi, kontrak payung petani dengan badan usaha, dan program-program lainnya membuat nilai tukar petani (NTP) mengalami kenaikan dari 116,53 menjadi 116,65 pada 2022.
“Ada keberhasilan yang bisa diukur dengan angka, mulai dari IPM, angka kemiskinan, indeks gini, stunting, dan NTP semua menunjukkan perbaikan,” ungkap Kang Bupati.
Berikutnya sektor pariwisata dan kebudayaan yang menjadi tumpuan untuk mendongkrak kesejahteraan masyarakat disentuh dengan program-program andalan. Water fountain yang dibangun di Telaga Ngebel terbukti meningkatkan kunjungan wisatawan secara signifikan. Kemudian pembangunan monument Reog dan museum peradaban yang saat ini sudah dimulai menjadi strategi menciptakan wisata pemikat kedua sekaligus konservasi budaya dan sejarah Ponorogo.
“Wisata Ngebel saat ini sangat ramai dengan hadirnya water fountain. Monumen Reog dan Museum Peradaban tahun ini akan mulai dibangun,” terangnya.
Selain itu, upaya Pemkab Ponorogo mendaftarkan Reog Ponorogo masuk daftar warisan budaya tak benda UNESCO dan Kabupaten Ponorogo masuk jaringan kota kreatif UNESCO terus dilakukan. Dua upaya yang tidak hanya mengangkat martabat kebudayaan Ponorogo, namun juga bisa berdampak positif bagi pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Di saat bersamaan, kabar baik datang dari Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) yang masuk kalender Kharisma Event Nusantara 2022. Untuk kedua kalinya di tahun 2023 masuk Kembali, bahkan menjadi event terbaik kedua KEN 2023. “Festival Reog baru pertama kali masuk KEN 2022 sudah menjadi yang terbaik ke-2,” ucapnya.
Kemudian infrastruktur terutama jalan menjadi fokus perhatian Pemkab setiap penyusunan rencana kerja pemerintah daerah (RKPD). Beban berat kerusakan jalan sedikit terurai dengan diperbaikinya 51 titik jalan pada tahun 2022. 35 persen sisa jalan rusak, ditargetkan akan tuntas pada pembangunan di tahun 2023 dan 2024. “Tadi sudah dijelaskan Pak Jamus pembangunan jalan pada 2021 dan 2022. PR kita yang 34 sampai 35 persen jalan rusak akan kita kerjakan 2023 dan 2024,” jelasnya.
Tidak hanya membangun jalan, wajah kota Ponorogo semakin cantik dengan program face off segi empat emas. Jl. HOS Cokroaminoto pada 2021 serta Jl. Jendral Sudirman dan Urip Sumoharjo di tahun 2022 selesai dipercantik. Di mana saat ini menjadi jujukan masyarakat Ponorogo untuk menikmati keindahan kota pada waktu malam. Ekonomi bergerak dan masyarakat mendapatkan ruang berkumpul baru di tengah kota.
Selain capaian tersebut, berbagai penghargaan juga didapat oleh Pemkab Ponorogo pada 2022. Mulai dari Kabupaten Layak Anak kategori Madya, Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) 10 kali berturut-turut, Kabupaten Sehat, Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Award, dan lain sebagainya.