Wedar Lakon “Wahyu Katentreman”, Kang Bupati : Ego Harus Diturunkan untuk Bekerja Sama Agar Wahyu Katentreman Turun

Wahyu Katentreman” lakon yang dimainkan Dalang Ki Guritno Purbo Carito pada pagelaran wayang kulit di Halaman PO Wiratama, Desa Watu Bonang, Kec. Badegan, Rabu (31/7/2024). 

Diwedar Kang Bupati Sugiri Sancoko bahwa “Wahyu Katentreman” adalah wahyu atau kekuatan yang diturunkan oleh para dewa melalui perantara Semar, tokoh punakawan yang bijaksana, untuk menentramkan rakyat dan mengusir pagebluk yang melanda.

Dipaparkan Kang Bupati, dalam lakon ini, Semar menerima petunjuk dari dewa untuk menyampaikan wahyu tersebut kepada yang berhak, guna menenangkan situasi dan menyelamatkan masyarakat.

Semar menugaskan para putra Pandawa untuk memenuhi syarat-syarat agar wahyu tersebut dapat diturunkan. Syarat tersebut berupa tiga pusaka berharga.

“Syaratnya satu para kasatria harus meminjam gaman untuk diberikan kepada Semar. Gaman itu artinya gengsi/martabat yang dipertaruhkan,” ucapnya. 

Dipaparkannya, senjata Cakra milik Prabu Kresna dari Dwarowati, yang harus didapatkan oleh Raden Gatutkaca, putra dari Raden Werkudara.

Jimat Kalimasada milik Prabu Punta Dewa dari Ngamarta, yang menjadi tugas Raden Ontoseno untuk memperolehnya.

Kyai Nenggala, pusaka yang berada di tangan Prabu Bolodewo, yang harus dipinjam oleh Raden Ontorejo, putra Jangkar Bumi.

“Mengapa tiga orang itu, karena mereka adalah penentu kebijakan, eksekutifnya,” jelasnya. 

Para putra Pandawa, meski dihadapkan pada tantangan besar, berhasil menekan ego masing-masing dan bekerja sama untuk mendapatkan ketiga pusaka tersebut.

Keberhasilan mereka bukan hanya menunjukkan kekuatan dan ketangguhan, tetapi juga kebijaksanaan dan rasa persatuan yang kuat.

Akhirnya, wahyu katentreman pun diturunkan, membawa ketenangan dan keselamatan bagi rakyat yang sebelumnya terguncang oleh pagebluk.

“Syarat ketenteraman semua harus mengorbankan gengsinya untuk gotong-royong akan muncul wahyu katentreman,” tandasnya.

Bagikan