Parade Budaya Hantar Air dan Tanah dari 21 Kecamatan untuk Tanam Pohon Kalpataru

Jika masih ragu dengan titel Ponorogo sebagai Kota Budaya, Parade Budaya Serenade Langit Tembaga bisa mematahkan keraguan itu, Sabtu (31/8/2024).

Selain reog yang sudah masyhur, ada kesenian lain yang hidup dan berkembang di Ponorogo terlibat dalam parade budaya tersebut.

Seperti tari keling, musik odrot, gajah-gajahan, unto-untoan, kebo-keboan, jaran thek, bantengan, tayub, barongsai, dan lain sebagainya.

Mereka membentuk arak-arakan mewakili 21 kecamatan di Kota Reog, berjalan dari eks pasar lanang menuju Paseban Alun-alun Ponorogo. Iring-iringan kesenian Ponorogo di bawah langit tembaga itu sangat indah dipandang.

Selain kesenian, arak-arakan juga membawa air dan tanah dari 21 kecamatan. Dua unsur bumi itu digunakan untuk menanam Pohon Kalpataru di halaman Pendopo Agung Kabupaten Ponorogo.

Didampingi oleh para perwakilan agama dan kepercayaan di Kota Reog, air dan tanah diterima Wakil Bupati Bunda Lisdyarita.

Dipaparkan Bunda Lisdyarita pohon kalpataru merupakan pohon kehidupan. ‘Kalpa’ dalam bahasa Sansekerta berarti keinginan, pengharapan, sementara ‘taru’ dalam bahasa Sansekerta berarti pohon.

Penanaman pohon kalpataru, jelasnya, simbol harapan agar Kabupaten Ponorogo semakin HEBAT.

“Air dan tanah dari 21 kecamatan itu simbol persatuan, dan Kalpataru simbol kehidupan dan menjadi harapan-harapan untuk Ponorogo semakin moncer,” ucapnya.

Bagikan