Dalam upaya mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia serta menjaga kesuburan tanah, Kang Bupati Sugiri Sancoko, menginisiasi praktek pembuatan pupuk organik yang digelar pada Minggu (2/2/2025).
Kegiatan ini berlangsung di Area Rumah Keprabon Bupati di Desa Bajang, Kecamatan Balong, dan diikuti oleh petani dari seluruh kecamatan se-Ponorogo.
Praktek pembuatan pupuk organik tersebut dipandu oleh Tarekat, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Ponorogo bersama dengan pengurus APTI Ponorogo.
Mereka sebelumnya telah mengikuti pelatihan pembuatan pupuk organik di Magelang pada 23-25 Januari 2025.
“Matur nuwun Pak Bupati, APTI kemarin difasilitasi untuk mengikuti pelatihan pupuk di Magelang selama tiga hari. Kami mendapatkan banyak materi yang bermanfaat, dan kini kami sosialisasikan serta kembangkan di wilayah masing-masing,” ujar Tarekat.

Dalam pelatihan tersebut, Tarekat menjelaskan bahwa pembuatan pupuk organik memerlukan takaran yang tepat serta bahan-bahan alami yang lengkap.
Bahan-bahan yang digunakan mencakup kotoran ayam pedaging, kotoran ayam petelur, kotoran kambing, kotoran sapi, urin sapi, urin kambing, katalis, air, dan garam.
Setelah semua bahan dicampur sesuai takaran, pupuk harus ditutup rapat dan didiamkan selama 14 hari hingga siap digunakan.
Para petani terlihat antusias mengikuti setiap tahapan yang dijelaskan dalam pembuatan dua jenis pupuk organik. Mereka mencatat dengan seksama prosesnya agar dapat mengaplikasikan ilmu ini di lahan masing-masing.
Tarekat menekankan bahwa petani memiliki tanggung jawab besar dalam menghadirkan sumber pangan sehat dan berkualitas bagi masyarakat.
Ia meyakini bahwa dengan menggunakan pupuk organik yang berasal dari bahan alami, hasil pertanian akan meningkat secara berkelanjutan.
“Dalam jangka panjang, pupuk organik mampu memberikan hasil yang maksimal. Jadilah petani yang bertanggung jawab dan mandiri, karena pangan yang sehat akan memberikan dampak positif bagi kesehatan masyarakat,” tegasnya.
Senada dengan hal tersebut, Bupati Sugiri Sancoko mengapresiasi semangat para petani dalam menghadirkan pangan berkualitas.
Menurutnya, pupuk organik tidak hanya lebih murah dan mudah didapatkan, tetapi juga memiliki manfaat besar bagi kesuburan tanah serta keberlanjutan ekosistem pertanian.
“Saya mencanangkan hingga 2029, dari 34 ribu hektar sawah yang ada, setidaknya 20 ribu hektar harus sudah beralih ke sistem organik. Ini adalah langkah untuk menyelamatkan alam, menjaga kesehatan, dan membangun pola pikir yang lebih baik bagi anak cucu kita,” ujar Kang Bupati.
Melihat pentingnya manfaat pupuk organik, Kang Bupati berharap agar praktek pembuatannya dapat diperluas dan dilaksanakan secara rutin setiap minggu.
Ia bahkan menugaskan APTI untuk melakukan kampanye pembuatan pupuk organik secara serentak.
“Ini adalah langkah besar. Oleh karena itu, setiap minggu kita akan melakukan edukasi dan praktek pembuatan pupuk organik secara masif. Kita harus rela berusaha lebih keras demi hasil yang lebih baik. Saya mendukung penuh inisiatif ini,” pungkasnya.