Di tengah derasnya arus zaman, Pemerintah Kabupaten Ponorogo menunjukkan komitmennya menjaga bahasa leluhur, Bahasa Jawa.
Melalui Dinas Pendidikan, upaya pelestarian dilakukan lewat berbagai kegiatan edukatif yang menyasar pelajar sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah di seluruh wilayah kabupaten.
Selama tiga hari, pada 14–16 Mei 2025, digelar lomba nembang geguritan, nembang macapat, serta menulis narasi berbahasa Jawa, yang diikuti ratusan guru dan siswa dari 21 kecamatan.
Ajang ini menjadi wadah ekspresi sekaligus sarana pembelajaran untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur dalam Bahasa Jawa.
Sebagai bentuk apresiasi, Kang Bupati Sugiri Sancoko dan Wakil Bupati Bunda Lisdyarita secara langsung menyerahkan trofi dan penghargaan kepada para pemenang lomba di Pendopo Agung Ponorogo, Jumat (23/5).
Sebagai salah satu identitas budaya, Kang Bupati Sugiri menegaskan bahwa Bahasa Jawa memiliki keistimewaan tersendiri, baik dari sisi tata bahasa, kosakata, maupun maknanya.
Ia berharap generasi muda dapat memahami dan mencintai Bahasa Jawa secara menyeluruh, tidak hanya dari aspek linguistik, tetapi juga nilai-nilai kesantunan dan kearifan lokal yang melekat di dalamnya.
“Bahasa Jawa dalam tata krama dan derajat sopan santun itu hanya satu tingkat di bawah Al-Qur’an. Bahasa ini kaya akan kosakata dan nilai-nilai luhur. Maka murid-murid kita harus paham betul tentang bahasa, dialek, dan budaya Jawa,” tegasnya.
Sebagai langkah lanjutan, Pemkab Ponorogo juga meluncurkan buku “Pana Basa Jawa”, buku muatan lokal khusus SD/MI sederajat, yang ditulis oleh para guru Ponorogo.
Buku ini tidak hanya mengajarkan struktur bahasa, tetapi juga memuat kekhasan dialek Ponoragan serta sejarah dan budaya lokal.
“Kita punya dialek Jawa yang khas Ponorogo. Maka penting agar muatan lokal tidak kehilangan jati diri Ponoragannya,” jelas Kang Bupati.
Dengan hadirnya buku ini, diharapkan proses transmisi kebudayaan bisa berjalan lebih efektif dan membumi dalam keseharian para pelajar.
“Anak-anakku, semoga terus semangat belajar dan berpacu. Lewat muatan lokal Reog, semoga transmisi budaya kita bisa terus mengalir,” harapnya.