Ponorogo Top 10 Lumbung Pangan Jatim, Dukung Swasembada Pangan Nasional

PONOROGO – Keberhasilan Indonesia mencapai target swasembada pangan nasional pada 2025 turut ditopang oleh kontribusi daerah, salah satunya Kabupaten Ponorogo. 

Dengan luas lahan panen lebih dari 73 ribu hektare dan produksi mencapai 523,25 ribu ton gabah kering panen (GKP), Ponorogo masuk dalam 10 kabupaten/kota lumbung pangan terbesar di Jawa Timur.

Presiden RI Prabowo Subianto dalam Tasyakuran Swasembada Pangan yang dipusatkan di Kecamatan Cilebar, Karawang  (7/1/2026), menyampaikan bahwa produksi beras nasional tahun 2025 mencapai 3,77 juta ton atau meningkat 13,54 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Cadangan ini beras nasional pun mencetak rekor tertinggi sebesar 4,2 juta ton.

Bunda Lisdyarita bersama jajara Forkopimda dan petani menyimak arahan Presiden Prabowo Subianto

Di Ponorogo, tasyakuran swasembada pangan dan pengarahan Presiden tersebut diikuti secara daring dari Balai Desa Sukorejo. Digelar Gapoktan dan petani se-Kec. Sukureojo, kegiatan ini diikuti Plt Bupati Bunda Lisdyarita, jajaran Forkopimda Ponorogo, serta stakeholder pertanian di Bumi Reog lainnya.

Pada kesempatan tersebut, Bunda Lisdyarita menyampaikan apresiasi atas kerja keras para petani dan penyuluh pertanian dalam mendukung swasembada pangan hingga Ponorogo mampu mencapai surplus beras.

Ia menegaskan pemerintah daerah terus berupaya mendukung sektor pertanian melalui berbagai program seperti penyediaan bibit, alat dan mesin pertanian (alsintan), pupuk bersubsidi, hingga program listrik masuk sawah.

Bunda Lisdyarita menyerahkan potongan tumpeng kepada perwakilan petani

“Alhamdulillah kita mencapai surplus beras. Semua petani harus semangat, pupuk sudah turun, bibit disiapkan, juga sudah sebagian ada listrik masuk sawah jadi walaupun kemarau tetap sawahnya bisa panen,” terangnya.

Lebih lanjut, melihat capaian besar sektor pertanian Ponorogo, Bunda Lisdyarita menegaskan agar prestasi tersebut tidak berhenti begitu saja. Ia mendorong regenerasi petani dengan mengajak generasi muda untuk belajar pertanian inovatif serta mengenal dan memanfaatkan alat dan mesin pertanian (alsintan) modern. 

“Kalau petani sudah sepuh harus ada penerusnya. Anak-anak muda perlu kita ajarkan bertani dengan teknologi modern supaya tertarik dan mau terjun ke sektor pertanian,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dispertahankan Ponorogo, Hery Sutrisno, mengatakan keberhasilan Ponorogo sebagai salah satu penyumbang padi nasional tidak terlepas dari kolaborasi berbagai pihak, terutama peran aktif para penyuluh pertanian yang intens mendampingi petani di lapangan.

Kini, per 1 Januari 2026, sebanyak 164 penyuluh pertanian di Ponorogo resmi beralih status menjadi pegawai Kementerian Pertanian. 

Dengan perubahan status tersebut, Hery optimistis koordinasi hingga ke tingkat pusat dapat lebih optimal, sekaligus menjadi jembatan bagi petani dalam mengakses alat dan mesin pertanian (alsintan) modern serta berbagai program pertanian inovatif.

“Teman-teman petani sudah tidak ada masalah karena hubungannya langsung ke Kementrian, jadi apa saja bisa langsung dibicarakan ke penyuluh,” terangnya.

Bagikan